Di urutan berikutnya ada Mohammad Natsir yang menulis roman Hidup Bahagia bersama Nasroen AS, Tamar Djaja yang menulis roman Tersesat, Emzita yang menulis Imbauan Ka’bah, Utsman Sholehuddin yang menulis Saur Mama, Endang Saifuddin Anshari yang menulis Cahaya di Atas Cahaya. Rudi Rusyana yang menulis Sang Marginalis dan terakhir Udo Yamin Majdi yang menulis Bara Musa di Taman Terpasung.
Menarik jika kemudian ragam kekayaan khazanah intelektual ini bisa terus digali dan dikembangkan dalam kerangka menopang dakwah Persatuan Islam ke depannya. Terlebih jika Persatuan Islam memberikan kesempatan kepada generasi pelanjutnya baik di Pemuda, Pemudi, HIMA, HIMI, IPP dan IPPi untuk terus mengembangkan bakat serta keberadaannya apalagi difasilitasi untuk terus mengaktualisasikan diri dan dakwahnya dalam bidang-bidang yang pernah diisi oleh para pendahulunya.
Kehadiran komunitas-komunitas kepenulisan di lingkungan jam’iyyah Persatuan Islam seperti Madrasah Pena (Pameungpeuk), Pena Rahayu Kreatif (Margaasih), Sesajen (Tasikmalaya) dan sejumlah komunitas lainnya bisa turut menguatkan dakwah Persatuan Islam ke depannya. Hal ini bisa dimaksimalkan asalkan ada kemauan dari berbagai pihak khususnya Persatuan Islam dan otonomnya.
Bahkan bila dipandang perlu untuk pengembangan dakwah ke depannya, rasa-rasanya cukup memungkinkan jika Persatuan Islam membentuk satu lembaga khusus untuk mengisi ruang dakwah kebudayaan sebagaimana Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) yang dimiliki
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0