Sastra dikenal sebagai media dakwah mulai hadir sejak tampilnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Bahkan para penyebar Islam seperti walisongo pun ada yang menggunakan sastra sebagai media dakwahnya. Dalam Perang Aceh yang dikenang dengan kegemilangannya pun terdapat karya sastra yang turut membangun semangat serta ghirah para mujahidin Aceh untuk berperang melawan tirani kolonialis Belanda.
Salah satu karya sastra yang menjadi bacaan wajib pembangkit ghirah perjuangan itu adalah Hikayat Prang Sabi buah pena Teungku Chik Pante Kulu. Selain itu, sastra Islam pun berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Dari angkatan Balai Pustaka kita mengenal nama seperti Buya Hamka yang dikenal dengan romannya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Lalu beberapa nama lainnya dalam beberapa periodisasi sastra seperti JE Tatengkeng, AA Navis yang turut menghiasi panggung sastra Islam Nusantara. Di era 2000-an muncul pula nama-nama seperti Helvy Tiana Rossa, Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, dan beberapa nama lainnya menambah semarak rangkaian panggung sastra Nusantara.
Bahkan kehadiran Forum Lingkar Pena yang diinisiasi kakak beradik Helvy Tiana Rossa dan Asma Nadia menambah semarak perkembangan sastra Islam di Indonesia. Penyair senior Taufiq Ismail bahkan sampai mengatakan bahwa kehadiran Forum Lingkar Pena merupakan hadiah dari Allah untuk Indonesia.
Kehadiran sastra sebagai media dakwah
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0