Lalu sekitar tahun 1950-an guru utama Persatuan Islam yakni Ahmad Hassan menerbitkan kumpulan sajaknya sebanyak dua jilid yang diberi judul ‘Sjair’ dan kumpulan pepatahnya yang dipublikasikan melalui majalah Pembela Islam dengan judul ‘Kitab Pepatah’ sebanyak dua jilid.
Selain menulis Sjair, Ahmad Hassan pun tercatat menulis kumpulan cerita pendek yang diberi judul ‘Tertawa’ sebanyak empat jilid dan kumpulan nasihat sebanyak 4 jilid pula yang diberi judul Hai Puteraku, Hai Puteriku, Hai Cucuku, dan Hai Anakku1.
Tak hanya di majalah Pembela Islam saja kita dapat melihat atau membaca karya-karya sastra yang ditulis para ulama Persatuan Islam. Di majalah seperti Risalah pun kita bisa membaca satu naskah drama berjudul ‘Biar Aku Mati, Asal Islam Tetap Hidup’ meskipun penulis dari naskah drama ini tidak diketahui. Belum lagi cerita-cerita pendek yang ditulis ustadz Utsman Sholehuddin di majalah seperti Al-Qudwah, Dhuha, dan sebagainya.
Bahkan di tahun-tahun awal eksistensi dakwahnya, Persatuan Islam telah membuat sebuah rumusan terkait konsepsi dakwah melalui kebudayaan. Hal ini dirumuskan pertama kali oleh KH M Isa Anshary yang mana rumusan tersebut kemudian disempurnakan oleh Pak Natsir dalam bukunya yang berjudul ‘Capita Selecta’ di jilid pertama. Belum lagi konsep-konsep kebudayaan dan dakwah yang ditulis oleh Pak Natsir dan dihimpun di dalam buku ‘Kebudayaan Islam’ terbitan Girimukti Pasaka.
Bila kita melihat sekilas perjalanan sejarah di atas, tentu menarik bila disimpulkan bahwa dakwah melalui kebudayaan khususnya sastra telah mengakar kuat dalam perjalanan sejarah Persatuan Islam.
Sastra Dalam Karya Intelektual Ulama Persatuan Islam
Dalam
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0