Fransiscus Go. Foto: Ist
Salah satunya, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT. Di sana masih ditemukan sekolah berdinding bambu dengan fasilitas sangat terbatas. Para siswa harus belajar di ruangan kecil, dengan pintu terbuat dari seng dan tinggi bangunan tidak lebih dari dua meter. Kondisi memprihatinkan juga terlihat dari kurangnya buku pelajaran, alat ajar hingga sarana pembelajaran lain.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Manggarai Timur, Kepulauan Flores. Disana masih ada sekolah yang menggunakan kelas darurat beralas tanah. Kondisi ruangan juga tidak layak untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kondisi bangunan hanya terbuat dari kayu dan berdinding bambu. Di musim hujan, atap sekolah seringkali bocor.
Minimnya akses pendidikan di pedalaman NTT, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, membuat 28.65 persen anak NTT tidak bisa mengenyam pendidikan. Dari tahun ke tahun, capaian hasil pembelajaran pelajar NTT dalam ujian Nasional berada dalam rata-rata rendah.
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya pendidikan di NTT. Salah satunya karena tingkat ekonomi yang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah penduduk miskin di NTT yang tercatat per Maret 2023 sebesar 1.141.110 orang atau meningkat sebanyak 9.500 orang dibandingkan dengan Maret 2022.
Tingkat ekonomi yang rendah membuat masyarakat tidak bisa mengenyam pendidikan. Bagi sebagian masyarakat di pedesaan, menyekolah anak masih menjadi beban karena harus membeli seragam, menyediakan buku dan hingga transportasi. Karena itu banyak diantara mereka lebih memilih agar anak-anaknya bekerja daripada melanjutkan pendidikan. Keadaan
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0