Mendongkrak Pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ichsan Sundawani
Sep 17, 2023

Fransiscus Go. Foto: Ist

dengan sarana pembelajaran yang minim. Pendidikan di NTT masih jauh dari harapan. Bahkan bisa  dibilang masih sangat memprihatinkan, fasilitas pendidikan jauh dari  kata layak.  

Salah satunya, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT. Di sana masih ditemukan sekolah berdinding bambu dengan fasilitas sangat terbatas. Para siswa  harus belajar di ruangan kecil, dengan pintu terbuat dari seng dan tinggi bangunan tidak lebih dari  dua meter. Kondisi memprihatinkan juga terlihat dari kurangnya buku pelajaran, alat ajar hingga sarana pembelajaran lain. 

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Manggarai Timur, Kepulauan Flores. Disana masih ada sekolah yang menggunakan kelas darurat beralas tanah. Kondisi ruangan juga tidak layak untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kondisi bangunan hanya terbuat dari kayu dan berdinding bambu. Di musim hujan, atap sekolah seringkali bocor.

Minimnya akses pendidikan di pedalaman NTT,  menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT,  membuat 28.65 persen anak NTT tidak bisa mengenyam pendidikan. Dari tahun ke tahun, capaian hasil pembelajaran pelajar  NTT dalam ujian Nasional  berada dalam rata-rata rendah.

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya pendidikan di NTT. Salah satunya karena tingkat ekonomi yang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah penduduk miskin di NTT yang tercatat per Maret 2023 sebesar 1.141.110 orang atau meningkat sebanyak 9.500 orang dibandingkan dengan Maret 2022.

Tingkat ekonomi yang rendah membuat masyarakat tidak bisa mengenyam pendidikan. Bagi  sebagian masyarakat  di pedesaan, menyekolah anak masih menjadi beban karena harus membeli seragam, menyediakan buku dan hingga transportasi. Karena itu banyak diantara mereka lebih memilih agar anak-anaknya bekerja daripada melanjutkan pendidikan. Keadaan


1 2 3 4 5 6 7

Related Post

Post a Comment

Comments 0