Pemulung di TPST Bantargebang. Foto: KPNas
Timbulan sampah semakin banyak di TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu menjadi gunung-gunung sampah dengan ketinggian 40-50 meter, sebab yang diolah sekitar 15-20% dari total sampah yang masuk tiap hari. Meskipun tersedia beberapa teknologi pengolah sampah. Akibatnya pencemaran udara dari gas-gas sampah dan operasional TPST merajalela, seperti gas metana (CH4), CO2, dll, sedang pencemaran air dan tanah berasal dari leachate semakin massif. Ketika musim kemarau terjadi kebakaran dan ketika musim hujan terjadi longsor.
Gunung-gunung sampah semakin tinggi dan tidak tertata dan di-cover soil berpotensi longsor. Buntutnya pemulung, operator alat berat, supir truk sampah dan mereka yang beraktivitas di zona aktif sangat wawas-wawas terurug sampah bila sewaktu-waktu longsor.
Bahkan, pemulung dilarang mengais sampah di beberapa zona yang rawan longsor. Dampaknya income menurun, biasanya mendapat 100-150 Kg/hari setara dengan Rp 100.000-150.000. Sekarang dua hari mengais sampah hanya memperoleh penghasilan Rp 60.000-70.000. Terjadi penurunan income sekitar 50%.
Sekitar TPST/TPA terdapat ratusan pemukiman kumuh, berupa gubuk-gubuk yang ditempat pemulung. Gubuk-gubuk tersebut berada di lingkungan tercemar dan berserakan berbagai sampah sisa-sisa sortir. Gubuk-gubuk tersebut terbuat dari material bekas, kumuh, bacin dan sanitasi sangat buruk. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kesehatannya, terutama anak-anak dan perempuan hamil.
Perkembangan pengelolaan berbagai jenis sampah, seperti plastik, kertas, kaca/beling, karet, besi, dll. Selain gubuk-gubuk, ada tumpuk-tumpukan
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0