Perkembangan kesusastraan ini terus berlanjut sampai akhirnya berjumpa dengaan hadirnya Balai Pustaka pada tahun 1920-an yang ditandai dengan hadirnya beragam roman dan ditulis dalam bahasa Melayu Tinggi seperti Azab dan Sengsara yang ditulis oleh Merari Siregar dan Siti Nurbaya yang ditulis oleh Marah Rusli. Selain itu pada masa ini terbit pula karangan-karangan lain seperti Apa Dayaku Karena Aku Perempuan karangan Nur Sutan Iskandar, Muda Teruna karangan M Kasim dan Dibawah Lindungan Ka’bah karangan Buya Hamka.
Selepas munculnya karangan-karangan Balai Pustaka, pada tahun berikutnya tepatnya di tahun 1930-an, perkembangan kesusastraan Indonesia mengalami laju pesat yang ditandai dengan hadirnya majalah Poejangga Baru. Beberapa penulis di angkatan ini antara lain novel Layar Terkembang dan Dian Yang Tak Kunjung Padam karangan Sutan Takdir Alisjahbana, roman Belenggu karangan Amrijn Pane, serta kumpulan puisi Buah Rindu karangan Amir Hamzah.
Di tengah masa-masa keemasan Pujangga Baru, maka di era pergolakan perjuangan kemerdekaan muncul pula para penulis yang kemudian dikenal dengan angkatan 45. Di angkatan ini, muncul sosok-sosok pembaharu Sastra Indonesia seperti Chairil Anwar seperti termaktub dalam beberapa kumpulan puisinya seperti Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Luput, Deru Campur Debu, dan Tiga Menguak Takdir (kumpulan puisi yang ditulis bersama Asrul Sani dan Rivai Apin). Selain itu, di angkatan ini muncul pula nama besar seperti Achdiat K Mihardja lewat novelnya Atheis, Idrus lewat novelnya Surabaya dan AKI serta Iwan Simatupang lewat bukunya Harimau-Harimau, ada juga Pramoedya Ananta Toer melalui Tetralogi
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0