GENEALOGI SASTRA INDONESIA

Joeang Elkamali
May 16, 2023

Demikian juga cerita-cerita karangan Raden Mas Tirto Adhisurjo seperti Boesono dan Nyai Permana yang dimuat dalam surat kabar tersebut.

Perkembangan kesusastraan ini terus berlanjut sampai akhirnya berjumpa dengaan hadirnya Balai Pustaka pada tahun 1920-an yang ditandai dengan hadirnya beragam roman dan ditulis dalam bahasa Melayu Tinggi seperti Azab dan Sengsara yang ditulis oleh Merari Siregar dan Siti Nurbaya yang ditulis oleh Marah Rusli. Selain itu pada masa ini terbit pula karangan-karangan lain seperti Apa Dayaku Karena Aku Perempuan karangan Nur Sutan Iskandar, Muda Teruna karangan M Kasim dan Dibawah Lindungan Ka’bah karangan Buya Hamka.

Selepas munculnya karangan-karangan Balai Pustaka, pada tahun berikutnya tepatnya di tahun 1930-an, perkembangan kesusastraan Indonesia mengalami laju pesat yang ditandai dengan hadirnya majalah Poejangga Baru. Beberapa penulis di angkatan ini antara lain novel Layar Terkembang dan Dian Yang Tak Kunjung Padam karangan Sutan Takdir Alisjahbana, roman Belenggu karangan Amrijn Pane, serta kumpulan puisi Buah Rindu karangan Amir Hamzah.

Di tengah masa-masa keemasan Pujangga Baru, maka di era pergolakan perjuangan kemerdekaan muncul pula para penulis yang kemudian dikenal dengan angkatan 45. Di angkatan ini, muncul sosok-sosok pembaharu Sastra Indonesia seperti Chairil Anwar seperti termaktub dalam beberapa kumpulan puisinya seperti Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Luput, Deru Campur Debu, dan Tiga Menguak Takdir (kumpulan puisi yang ditulis bersama Asrul Sani dan Rivai Apin). Selain itu, di angkatan ini muncul pula nama besar seperti Achdiat K Mihardja lewat novelnya Atheis, Idrus lewat novelnya Surabaya dan AKI serta Iwan Simatupang lewat bukunya Harimau-Harimau, ada juga Pramoedya Ananta Toer melalui Tetralogi


1 2 3 4 5 6 7 8

Related Post

Post a Comment

Comments 0