Kehidupan orang banyak, petani-petani di kampung atau pedagang-pedagang di kota, tak pernah menjadi perhatian para pujangga, karena itu tak masuk hitungan. Demikian juga bentuknya. Umumnya sudah mempunya bentuk yang tradisional. Kebanyakan berbentuk tembang (puisi). Pendeknya bukan bahasa sehari-hari. Bahasa prosa cenderung tidak bernilai sastra.
Seiring berkembangnya surat kabar pada pertengahan abad ke 19, maka mulailah dipergunakan bahasa-bahasa yang lebih praktis untuk menyampaikan peristiwa hidup sehari-hari. Ditambah oleh pengaruh bacaan sastra Eropa melalui Belanda, maka mulailah orang mempergunakan bahasa prosa untuk bercerita. Mungkin, pada awalnya mereka tidak begitu sadar untuk bersastra, tetapi lama kelamaan jenis cerita ini berkembang pesat setelah banyak mendapat peminat.
Dengan berkembangnya surat kabar ini pada akhirnya memunculkan para pengarang roman pertama pada akhir abad ke 19 atau awal abad ke 20. Para pengarang roman ini justru tidak berasal dari Pulau Sumatera melainkan dari pulau Ambon dan ada orang Indo. Mereka tidak menulis dalam bahasa daerahnya masing-masing dalam bentuk tembang atau serat yang sudah tradisional itu. Hal ini seperti terlihat dalam tulisan seorang pengarang berdarah Manado bernama Pangemanan yang pada awal abad kedua puluh merupakan seorang wartawan yang piawai menulis cerita-cerita roman. Selain itu ada pula seorang Indo bernama G Francia yang menulis kisah Nyai Dasima (1896) yang konon berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi di Betawi. Haji Mukti yang menulis Hikayat Siti Mariah yang meskipun disebut hikayat, namun tak ada persamaannya dengan hikayat-hikayat yang dikenal dalam karya sastra klasik. Cerita itu dimuat sebagai feuilleton dalam surat kabar Medan Priyayi yang terbit di Bandung.
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0