Potret Getir Kehidupan Warga di Tepi TPA Sumur Batu

Abdillah Balfast
May 01, 2025

potret TPA Sumur Batu

Berdampak

Informasi lengkap praktik ilegal ini akan FJPL ungkap dalam liputan berikutnya. Musa sendiri mengaku tak begitu paham dan tak mau usil soal itu. Yang dia tahu, praktik buangan melalui pintu ilegal di sekitar lingkungannya sudah berjalan cukup lama, sekitar lima tahunan.

Musa mengajak FJPL menyeberang dari rumahnya menuju deretan gubuk pemulung yang berada di bawah gunung sampah. Di sana, terlihat seorang ibu dan anak kecil dari keluarga pemulung sedang bercanda ria di depan pintu gubuk mereka. Beberapa pemulung lain masih berjibaku memilah sampah meskipun waktu adzan maghrib hampir tiba.

Di bawah gunung sampah, terdapat cekungan yang memuat air lindi—cairan keruh dan hitam. Tak salah apa yang dikatakan Musa. Jika hujan lebat, air ini pasti meluap dan mengalir ke rumah warga.

Bau busuk menyeruak, menusuk hingga ke ulu hati, membuat perut terasa mual dan kepala pening. Namun bagi Musa dan warga setempat, bau ini telah menjadi teman sehari-hari—semacam parfum lingkungan yang dipaksa mereka hirup setiap waktu.

"Kami udah biasa, mau gimana lagi?" ujarnya pasrah. 

Di sini terlihat tumpukan berbagai jenis sampah yang tercampur. Bahkan, FJPL masih menemukan selang infus dan popok dewasa yang berserakan. Temuan ini tidak mengejutkan.  Sebab, area tersebut berjarak dekat dengan lokasi pembuangan limbah medis yang sebelumnya ditemukan FJPL bersama Haji Anton, Anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, pada Minggu (20/4/2025) lalu.

Yang lebih memprihatinkan lagi, Musa menceritakan bahwa tembok pembatas yang seharusnya melindungi permukiman mereka telah roboh sejak lebih dari setahun lalu. "Tembok itu udah ambruk hampir setahun lebih, tapi gak pernah diperbaiki," katanya. Tak heran, mungkin karena lamanya roboh, tidak ada sisa-sisa


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0

Trending Post