Fransiscus Go, Foto: Ist
Selama ini memang sudah ada usaha dari pemerintah untuk membangun infrastruktur pendidikan yang lebih baik, memberikan bantuan biaya dan meningkatkan kualitas tenaga pengajar di Indonesia Timur. Namun demikian semua upaya itu kiranya masih perlu ditingkatkan.
Rasanya agar bisa benar-benar maju dalam pendidikan di Indonesia Timur, pemerintah dan berbagai pihak kepentingan hendaknya melepaskan pertimbangan-pertimbangan ekonomis kepada pola pembinaan humanis.
Konsekuensinya jelas mengingat yang diketuk ialah rasa moral dan hati, bahwa proyek Pembangunan ini bukan demi keuntungan finansial, melainkan karya cinta kasih sosial. Dengan berpola pikir humanis tersebut dimungkinkanlah dialog yang lebih kontekstual di wilayah lokal sehingga pendidikan menjadi sekolah kehidupan yang sama dan rata di seantero Indonesia.
Sudah bukan waktunya lagi untuk membeda-bedakan anak bangsa atau memberlakukan daerah-daerah tertentu sebagai “anak emas Pembangunan” sembari menelantarkan daerah lain sebab seluruh wilayah Indonesia dan generasi muda di dalamnya “tidak kurang Indonesia” untuk turut menikmati hasil pemerataan Pembangunan.
Jika ternyata selama ini ada jarak dalam arti kesenjangan kualitas, pembedaan perlakuan dalam pikiran dan rasa, maka sudah saatnya itu semua dipangkas. Masih belum terlambat untuk membangun berazaskan rasa cinta, perhatian dan niat baik, sebagai bagian dari mengejawantahkan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Indonesia”.
Fransiscus Go, Pengusaha asal NTT
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0