Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto. Foto: dok. PLN
KOSADATA — Sejuk angin Samudra Hindia menyapu pelataran kecil di Kecamatan Kambera, Sumba Timur. Di sana, berdiri bangunan mungil bercat cerah yang menyimpan cerita luar biasa: sekolah yang lahir dari sampah. Bukan metafora. Gedung baru Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri Kalu Manandang ini benar-benar dibangun dari 2,2 ton botol plastik daur ulang.
Setelah 17 tahun menumpang dan berpindah-pindah ruang belajar, akhirnya anak-anak di sekolah itu bisa mengeja huruf dan berhitung angka dalam gedung permanen, berwarna, dan ramah lingkungan. Semua berkat inisiatif PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli.
“Inilah mimpi yang jadi nyata. Kami tak pernah menyangka, gedung sekolah anak-anak kami akhirnya hadir dengan begitu indah dan kokoh,” ujar kepala sekolah setempat, Margaretha A.L Riupassa yang tak kuasa menahan haru saat peresmian gedung, Senin, 28 Juli 2025.
Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia mengenang tahun-tahun tanpa ruang tetap, berjuang dengan semangat seadanya demi masa depan anak-anak Sumba Timur.
Gedung baru itu dibangun menggunakan material ecoblock—bata ramah lingkungan yang terbuat dari plastik daur ulang. Tak hanya menjawab persoalan limbah yang mencemari lingkungan, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi pendidikan di wilayah 3T: Terdepan, Terluar, dan Tertinggal.
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menyebut langkah PLN sebagai terobosan luar biasa. “Kami belum pernah melihat sekolah dibangun dari sampah plastik sebelumnya. Ini benar-benar menjawab kebutuhan nyata di daerah kami,” katanya.
Proyek ini
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0