Defisit APBN dinilai bisa ganggu fiskal pemerintah. Foto: ist
defisit: Masalah atau Instrumen?
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai polemik defisit bulanan terlalu dibesar-besarkan. Baginya, yang lebih penting adalah menakar daya tahan penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan.
"Kalau penerimaan negara turun, ekonomi dalam kondisi rentan. Surplus bisa dicapai asal belanja dipotong, tapi konsekuensinya ekonomi bisa tumbang," ujar Anthony.
Senada, Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menekankan bahwa defisit pada dasarnya merupakan alat fiskal, bukan kondisi darurat. Selama alokasinya jelas dan berdampak langsung pada masyarakat, defisit justru dapat menjadi motor pertumbuhan.
“defisit sudah menjadi pola sejak era Orde Baru. Yang penting, besarannya terukur dan digunakan untuk mendorong multiplier effect ke rumah tangga, industri, dan bisnis,” kata Esther.
Ia menyarankan pemerintah untuk tak sekadar mengejar serapan anggaran, tetapi juga mengaitkannya dengan indikator kinerja yang terukur.
Menanti Semester Kedua
Dengan belanja negara yang diproyeksikan melonjak pada Juni–Juli seiring pelaksanaan program prioritas dan distribusi bantuan sosial, tekanan terhadap APBN dipastikan meningkat. Pemerintah dituntut untuk memutar otak, memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan mampu kembali dalam bentuk penerimaan yang produktif.
defisit boleh jadi masih dalam batas aman, tapi alarm sudah berbunyi. Semester kedua akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketahanan fiskal negara.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0