Panganan khas Betawi, kue sengkulun. Foto: sfn
Asmiranda tersenyum membenarkan pernyataan ayahnya. Menurut gadis manis kelas lima SD ini selain kue sengkulun, keluarganya suka berburu kudapan khas Betawi lainnya. Mulai dari putu mayang, kembang goyang, kue cucur, talam, hingga cente manis. “Ayah selalu mengajak jajan kue-kue khas Betawi. Ayah jarang membelikan kue kekinian,” kata Asmiranda sambil melirik manja kepada ayahnya.
Nenek Saripah yang baru pulang dari pasar ikut nimbrung di warungnya. Dia senang kue buatannya masih diminati generasi muda seperti Fauzan dan Asmiranda. “Alhamdulillah masih ada yang suka sama kue sengkulun buatan nenek,” kata Saripah semringah.
Semula, Saripah menjual pecak lele, sayur gabus pucung, dan ayam sampyok. Sayangnya, peminat aneka masakan khas Betawi tersebut semakin berkurang. Ibu empat anak dan enam cucu ini berhenti jualan. Dia berharap kue sengkulun tidak bernasib sama.
Setiap hari, kecuali Jumat, Saripah membuat kue sengkulun hanya dua loyang dan dijual seharga, Rp2.000/potong. Saripah juga kadang-kadang terima pesanan kue sengkulun partai besar untuk arisan, sunatan, dan pengajian.
“Nenek sudah tua. Cuma sanggup membuat dua loyang setiap hari. Ini juga entah sampai kapan. Sayang kalau tidak ada yang meneruskan,” kata Saripah sendu.
kue sengkulun diyakini sudah ada di Indonesia sejak 1513 silam. Kudapan ini punya kisah yang berlatar belakang kesetiaan. Ketika Portugis datang ke Malaka pada 1521, sebagian rakyat Batavia tetap berpihak kepada penguasa Kerajaan Sunda Padjajaran, Raja Tanjung Jaya.
Sebagai tanda kesetiaan, kue
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0