Oleh: Agustinus Tamtama Putra
Pengamat Kebijakan Publik GMT Institute
KOSADATA - Tulisan ini teruntuk bagi orang-orang di belakang Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta. Mari menggunakan logika sederhana, jika A = B dan B = C maka tak terbantahkan bahwa A = C. Namun jika A = B dan B ≠ C maka jelas bahwa A ≠ C. Demikian pula ketika Anies Baswedan selalu dibanding-bandingkan dengan Heru Budi Hartono. Premis mana yang kiranya berlaku?
Mari kita coba yang pertama. Jika Anies Baswedan hendak disamakan dengan Heru Budi Hartono, saya yakin bahwa Anda tidak akan mau. Namun agaknya ada kecenderungan untuk memaksakan bahwa Heru Budi Hartono harus seperti Anies Baswedan dengan mengatakan bahwa “seorang penjabat gubernur meneruskan program gubernur sebelumnya.”
Pertanyaannya, bagaimana meneruskan program yang menelan banyak dana namun tidak terlalu bermanfaat seperti misalnya patung sepatu? Masih banyak lagi proyek lain yang kiranya bisa dikritisi di masa pemerintahan Anies Baswedan, jika hendak melihat terus-menerus kesalahan dan kelemahan sembari menisbikan hal-hal dan program yang baik.
Kedua, premisnya akan berbunyi “Heru Budi Hartono tidak sama dengan Anies Baswedan.” Hal ini sudah jelas dengan sendirinya, clara et distincta, dalam terminologi epistemologi Kartesian. Maka tidak perlu kiranya memaksakan kehendak dengan mengatakan bahwa Heru Budi Hartono harus sama dengan Anies Baswedan karena mereka memang berbeda dari segi gaya, visi dan cara membangun DKI Jakarta.
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0