Refleksi Hardiknas, Merangkai Kembali Rantai Putus

Sani Ichsan
May 02, 2023

bulan penuh di Ramadan agar bisa menjadi orang yang bertakwa.

Bukan hanya ditempa untuk menjadi manusia spiritualis vertikal, dengan puasa kita dididik untuk menajamkan kesalehan sosial. Tujuan berpuasa juga sebagai wasilah introspeksi diri: menahan hawa dan nafsu, melatih ruhani dan pribadi.

Orang berpuasa sedang digembleng untuk peka hati dan pandai introspeksi diri. Mereka akan terbiasa dengan kontrol emosi, tenang, khusuk dalam setiap tindakan. Semua sikap itu otomatis akan mendatangkan shofaul qolbi hingga bermuara pada akhlak mulia. 

Hal itu sejalan dengan sabda baginda nabi Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari). 

Akhlak mulia atau adab itu sikap luhur bangsa kita. Kemarin, selama sebulan berpuasa, mayoritas dari kita sudah digembleng dengan tepo seliro, rendah hati, syukur, berbagi, empati, dan disiplin. Akhlak mulia merupakan permata dari tujuan pendidikan Indonesia, dan itu sejalan dengan perintah agama.

Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum yang sangat tepat untuk merefleksi setiap langkah yang telah ditempuh. Kiranya tak bisa ditawar lagi bahwa proses belajar mengajar harus berpedoman pada tujuan peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Urutannya harus seperti rukun dalam ajaran umat Islam. Harus berurut. Jangan ilmu dulu, sementara adab atau akhlak, kemudian iman dan takwa, dilakukan belakangan. Utamakan akhlak sebelum ilmu.

Peningkatan prestasi akademik dan nilai di atas kertas penting, tapi jauh lebih penting adab atau akhlak. Semua pembelajaran jangan mengalami pergeseran. Pendidikan karakter jangan salah menerjemahkan. Pun dengan semangat merdeka belajar. Semuanya harus kembali pada "urutan rukun" tadi: utamakan adab sebelum ilmu. Prioritaskan akhlak mulia untuk semua peserta didik dan warga negara.

Spirit Sisdiknas dan hakikat puasa sangat


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0