Memperkuat Ekonomi Daerah Melalui UMKM dan Koperasi di NTT

Ichsan Sundawani
Oct 12, 2023

Fransiscus Go, Foto: Ist

awan, situs megalitikum Rumah Adat Bena dan masih banyak kekayaan lain untuk menyebutkan bahwa NTT merupakan surga yang menawan untuk didiami dan didatangi. 

Akan tetapi dalam kenyataan, justru masih ada dilema dalam masyarakat tentang persoalan ekonomi dan kesejahteraan, sebuah potret yang kadang memprihatinkan.

Ironi NTT

NTT masuk dalam lima besar provinsi dengan penduduk miskin terbanyak di tanah air. Dari skala nasional berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan Indonesia per September 2022 tercatat 9,57 persen dari total jumlah penduduk. Angka ini meningkat dari posisi Maret 2022 yang hanya 9,54 persen. Artinya sebanyak 26,36 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan. 

Dari sejumlah penduduk miskin di Indonesia tersebut, provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak keempat ada di Nusa Tenggara Timur. Per September 2022, angka kemiskinan di NTT tercatat 1.149.170 jiwa. Hal ini sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk yang dalam waktu 6 bulan, jumlah penduduk miskin di NTT naik 17.550 jiwa, dari periode Maret 2022 sebanyak 1.131.620 jiwa. 

Sementara itu, ekonomi NTT tahun 2022 tumbuh sebesar 3,05 persen, terkesan lamban dan tidak signifikan. Perekonomian Nusa Tenggara Timur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2022 mencapai Rp118,72 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp72,70 triliun. 

Data-data di atas cukup mudah dicari sebagai potret bahwa di balik keindahan dan potensi yang kaya di atas, masih ada kutub lain sebagai tegangan yang menanti untuk disiasati sebab kekayaan alam dan budaya merupakan satu hal, sedangkan kemiskinan adalah hal yang lain. 

Di sinilah terletak peran pemerintah sebagai agen yang


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0