Lulus Doktoral UGM di Usia 25 Tahun, Fikhri Selalu Jaga Kewarasan dan Produktivitas

Ida Farida
Aug 01, 2025

Fikhri Astina Tasmara berhasil meraih doktor UGM di usia 25 tahun. Foto: dok. UGM

Fikhri.

 

Motivasi terbesarnya juga datang dari mendiang ayah. Senyum sang ayah saat ia meraih peringkat satu di sekolah dasar masih menjadi bahan bakar semangat hingga kini. “Itu momen yang terus saya ingat ketika saya ingin menyerah,” ucapnya lirih.

 

Di tengah tekanan studi doktoral yang padat, Fikhri belajar menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan sosial. Kuncinya, ia bilang, adalah membuat jadwal yang terstruktur dan realistis. 

 

“Saya selalu menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial. Itu cara saya menjaga kewarasan dan produktivitas,” ujarnya.

 

Dengan sistem itu pula, Fikhri tetap bisa mengikuti konferensi ilmiah di berbagai kota, menjalin jejaring, dan bahkan menjadi visiting researcher di Tohoku University, Jepang. 

 

Di sana, ia tergabung dalam riset di Graduate School of Biomedical Engineering—pengalaman yang menurutnya membuka wawasan baru tentang kolaborasi ilmiah lintas negara.

 

Kolaborasi, Bukan Kompetisi

 

Kesuksesan Fikhri tentu tidak berdiri sendiri. Ia mengucapkan terima kasih kepada tim promotornya: Prof. Dr. Mitrayana, S.Si., M.Si., Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech, dan Dr. Andreas Setiawan, M.T., yang mendampingi proses risetnya hingga tuntas.

 

Di mata Fikhri, dunia akademik bukanlah panggung kompetisi, melainkan ruang kolaborasi. Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa lainnya untuk tidak ragu berdiskusi dan meminta bantuan. “Seringkali pemahaman justru datang dari obrolan kecil dengan teman atau dosen,” imbuhnya.

 

Terakhir, ia mengingatkan pentingnya merawat diri dalam perjalanan akademik. “Jangan tunggu sukses besar untuk merayakan hidup. Nikmati prosesnya, rayakan pencapaian kecil, dan jangan lupakan waktu untuk diri sendiri," katanya.**


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0