Kondisi pemulung di TPST Bantargebang tak terdampak economy Circular. Foto: KPNas
Darman bersama keluarganya mendiami gubuk itu sudah 10 tahun lamanya. Demikian sepuluh temannya dari Pakisjaya, bersebelahan di deretan gubuk itu. Ratusan gubuk ada di blok itu. Mereka tidak menyewa, gubuk-gubuk itu dibuatkan bos (pelapak). Namun, semua barang hasil pungutan harus disetor ke bos. Termasuk yang menentukan harga pungutan, semua tergantung pada bos. Pemulung sebagai anak buah hanya bekerja.
Lanjutnya, penghasilan paling besar Rp 80.000, pengeluaran lebih Rp 100.000, tekor Rp 20.000 tiap hari. Hampir sama dengan kasus Iskandar. Jika kurang uang pinjam ke bos, misal Rp 200.000 untuk seminggu. Karena menimbang barang pada bos setiap minggu. Nanti, hutangnya diperhitungkan saat nimbang barang.
Darman merasakan sebagai pengorek sampah lebih enak ketimbang buruh tani atau empang. Jadi petani berat, duwitnya lama, berbeda dengan Pemulung bekerja seminggu ada hasil. Sayangnya, harga sampah turun terus sudah setahun membuat hidup makin sulit.
Meskipun harga sampah turun draktis Darman pasrah, tidak mengeluh, tetap bekerja. Sebenarnya, ia ingin harga-harga sampah naik lagi, stabil supaya kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi. Juga, ia pasrah tinggal di gubuk kumuh, pengab bacin, karena tidak bayar dan tergantung pada bos. Begitu pasrah meskipun kemiskinan, ketidakadilan melilit, eksploitasi itulah tercemin SDM rendah dan pilihan sempit buntu. Terus bagaimana dengan hak-hak kesehatan dan masa depan anak-anaknya?! ***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0