Kondisi pemulung di TPST Bantargebang tak terdampak economy Circular. Foto: KPNas
Contoh Iskandar (50 th) Pemulung asal Muara Gembong Bekasi, sudah 10 tahun mengais sampah di TPA Sumurbatu Kota Bekasi. Ia bersama istri dan tiga anaknya tinggal di gubuk blok makam Mbah Raden Kebluk Sumurbatu.
Saat ditemui Iskandar bersama istrinya sedang memilah sampah di samping gubuknya. Ia menyatakan, bahwa penurunan harga sampah pungutan benar-benar berpengaruh pada keluarganya. Hampir semua sampah turun harganya, yang paling parah emberan dan kertas. Penghasilan mengais sampah sekitar 50 kg, harga sampah gabrugan (campuran) Rp 750-800/kg. Harga plastik LD campuran Rp 5.000, LD bening (infus) Rp 5.000, padahal ketika harga bagus mencapai Rp 10.000/kg.
Income sehari Rp 70.000, maksimal 80.000. Jadi, Iskandar tekor Rp 20.000-30.000 setiap hari. Dari mana menutup kekurangan tersebut. Biasanya hutang ke bosa tau bank emok.
Sedang pengeluaran untuk kebutuhan makan, uang sekolah, jajan, dll sekitar Rp 100.000. Kadang-kandang lebih. Istri Iskandar menambahkan sekarang harga beras Rp 12.000/liter bukan per kg. Sayur asem Rp 4.000/bungkus, cabe Rp 5.000/bungkus, bawang merah Rp 5.000/bungkus, bawang putih Rp 5.000/bungkus kecil, minyak goreng murah Rp 15.000/bungkus, uang jajang sekolah 5.000 sampai jam 11 siang, sekolah siang Rp 5.000, ngaji malam Rp 5.000. Padahal punya 3 anak.
Belum lagi kalau sakit, istri Iskandar melanjutkan, jika sakit ringan hanya puyeng, pilek biasanya beli obat ke warung. Tetapi jika sakit serius
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0