Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo. Foto: ist
Persoalannya tak berhenti sampai di situ. Produktivitas sektor manufaktur yang menurun tajam mendorong banyak pelaku industri atau pabrik, baik skala besar maupun UMKM, melakukan penyesuaian. Salah satu opsi yang lazim dipilih adalah PHK untuk menurunkan biaya operasional. Data resmi kementerian tenaga kerja mencatat bahwa sepanjang periode Januari –Oktober 2024, total PHK dialami lebih dari 52.993 pekerja. Tahun lalu, total PHK mencapai 64.000.
Kini, sudah muncul asumsi kalau gelombang PHK di berbagai sektor industri bakal terus membesar hingga di atas 70.000 pekerja pada akhir tahun 2024. Jumlah pengangguran menjadi sangat besar jika ditambahkan dengan 10 juta komunitas Gen-Z yang tidak melanjutkan pendidikan dan tidak bekerja, sebagaimana diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2024..
Terus bertambahnya angkatan kerja yang menganggur tentu saja memberi gambaran sangat jelas tentang fluktuasi daya beli masyarakat pada umumnya. Maka, tidaklah mengejutkan ketika BPS mengumumkan bahwa Indonesia mengalami deflasi 0,12 persen pada September 2024. Ini adalah deflasi kelima berturut-turut, terhitung sejak Mei 2024.
Jumlah pengangguran yang terus membesar, melemahnya daya beli dan fakta tentang deflasi tentu saja memunculkan akibat lain. Relevansinya terlihat dari gambaran tentang menurunnya kelas menengah Indonesia dalam lima tahun terakhir. BPS mencatat, jumlah kelas menengah Indonesia tercatat 57,33 juta orang atau 21,45 persen dari total penduduk pada 2019. Per 2024, kelas menengah tersisa menjadi 47,85 juta orang atau 17,13 persen. Data ini
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0