Artificial Intelligence: Tantangan atau Peluang?

Ichsan Sundawani
Sep 25, 2023

Fransiscus Go. Foto: Ist

bukanlah hal yang mustahil sebagai konsekuensi dari Chat GPT tersebut. 

Namun demikian kita tidak boleh terkecoh. Kita manusia adalah makhluk yang dinamis. Selain dinamis, kita bisa membuat determinasi, artinya membuat jarak dengan sarana-sarana tersebut. Sebagai contoh, kita bisa memutuskan untuk hidup tanpa handphone satu minggu dan pergi ke hutan tanpa ada yang mengganggu. Karena sekali lagi, HP (baca: AI), adalah faktor luar yang memang sekarang sangat vital, namun bukan yang esensial. Kita tetap bisa hidup tanpa HP. 

AI kendati berubah-ubah, bisa mempengaruhi kehidupan manusia. Seperti di awal dikatakan, sebagai sarana bisa membantu kehidupan. Dalam konteks pendidikan, ia menjadi resources ilmu pengetahuan. Meskipun sifatnya hanya informatif. Jika ingin sungguh-sungguh menguasai suatu bidang, misalnya, tidaklah cukup hanya belajar pada atau mengandalkan AI. Ketergantungan yang berlebihan sehingga enggan belajar bukanlah masalah AI, melainkan masalah mentalitas diri orang yang bersangkutan. 

Ketekunan dan Daya Juang

Untuk kualitas unggul dalam pendidikan, tetap diperlukan jerih payah dan keringat lelah dalam belajar, misalnya membaca literatur ilmiah dan studi-studi riset serta tulisan-tulisan ilmiah sepanjang jaman yang sudah terbukti kredibilitas intelektualnya. Untuk hal ini, buku apa yang kita baca mempengaruhi pola pikir dan pengetahuan kita. Tokoh mana yang kita dalami pemikirannya, akan menentukan arus pemikiran dan mazhab yang kita anut. Namun bila menggantungkan diri pada AI, kemampuan kita juga akan hanya artifisial. Pengetahuan yang mendalam tetap membutuhkan usaha dan kemampuan untuk bertekun. 

Pro dan kontra terkait AI dengan demikian dalam pendidikan bukan soal penggunaan AI untuk tugas-tugas. Itu hanyalah permukaan. Yang penting dalam pendidikan baik vokasi maupun profesi ialah hasrat yang tiada henti untuk menggali


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0