Pelaku seni rebana biang di Sanggar Pusaka Ciganjur. Foto: dok Sanggar Pusaka
Bahkan saat rebana biang diminta melakukan pentas ke Negeri Kangguru Australia, David merupakan saksi hidup yang dapat menceritakan pengalamannya.
“Kalau pentas ke luar kota mungkin kita sudah lumayan sering, tapi pengalaman ke Australia untuk menabuh rebana biang, itu kebanggaan tersendiri buat anak Betawi seperti saya,” kata dia.
David yang masih aktif melatih rebana biang kepada generasi di bawahnya kerap kesulitan mencetak generasi baru, kadang keberadaan generasi muda akan datang dan hilang seperti hukum alam.
Dia sadar perlu ada inovasi yang perlu ditingkatkan. Salah satunya melakukan kolaborasi dengan seni modern. Cara itu merupakan cara yang ampuh untuk memperkenalkan rebana biang.
“Menggabungkan atau kolaborasi dengan seni modern , band misalnya tidak masalah, asalkan ketika kita diminta untuk main versi asli rebana biang kita bisa, jangan malah dilupakan seni murninya,” kata David.
Harapan bagi para penggiat seni rebana di era ini tidak muluk-muluk, yaitu ketersediaan panggung yang banyak. Bagi Nasir dan David panggung bukanlah selalu berbicara soal penghasilan, tapi lebih nilai keberkahan yang bisa diterima. Dengan adanya panggung dan kesempatan, artinya memperpanjang kesempatan bernafas rebana biang.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0