Brian Arianto Tanuwidjaja berfoto dengan orangtuanya usai wisuda di UGM. Foto: dok. UGM
Meski demikian, perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Brian sempat mengalami titik terendah saat gagal dalam program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Meski telah melewati berbagai tes persiapan, hasil yang diterima tidak sesuai harapan.
“Saya sudah berikan tenaga dan biaya, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Berat sekali waktu itu untuk berdamai dan menerima bahwa mungkin jalannya bukan di situ. Tapi setelah waktu berjalan, saya sadar mungkin ini yang terbaik untuk saya,” ungkapnya.
Brian menyampaikan rasa syukurnya bisa menyelesaikan pendidikan di UGM, kampus yang menurutnya memberikan fasilitas lengkap, termasuk insentif bagi mahasiswa yang aktif berkompetisi. Ia berharap almamaternya terus berkembang dan menjaga tradisi prestasi.
Kepada mahasiswa lain, Brian berpesan untuk menjaga kesehatan, terutama kesehatan mental, di tengah iklim akademik yang kompetitif.
“UGM itu kompetitif, tapi jangan sampai terjebak dalam toxic productivity. Tetap tentukan jalan masing-masing tanpa harus membandingkan. Menjadi mahasiswa itu privilege, apalagi di UGM,” katanya.
Ke depan, Brian berencana melanjutkan studi Magister di bidang Kesehatan Masyarakat di kampus yang sama. Ia berharap bisa berkontribusi dalam membuka akses layanan kesehatan yang lebih merata dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perilaku hidup sehat.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0