Foto ilustrasi: AI
“Ini usia emas, seharusnya diisi dengan aktivitas belajar yang kondusif. Tapi faktanya, bahkan di wilayah tertinggal, anak-anak sudah akrab dengan dunia digital,” katanya prihatin.
Meski sejumlah orang tua telah menerapkan aturan penggunaan gawai, Jamilun menyebut 22 persen anak-anak justru tidak mengikuti aturan tersebut. Menurutnya, hal ini terjadi karena aturan dibuat sepihak tanpa proses dialog.
“Anak harus dilibatkan dalam membuat kesepakatan. Saat mereka merasa dihargai, aturan akan lebih mudah dipatuhi,” ujarnya.
Sebagai pendidik, Jamilun membagikan sejumlah tips membangun karakter anak di era digital. Di antaranya membangun kesepakatan bersama, menanamkan nilai positif sejak dini, menjadi teladan dalam penggunaan gawai, memahami kodrat anak yang senang bermain, serta mengasah keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
“Anak-anak harus dibentuk konsep dirinya, agar saat jauh dari kita pun mereka tetap punya nilai dan identitas pegangan,” ucapnya.
Jamilun menutup paparannya dengan mengutip filosofi Ki Hajar Dewantara. “Tugas orang tua dan guru adalah menuntun kodrat anak agar tumbuh alamiah, tapi tetap dengan bimbingan dan kasih sayang yang konsisten,” tuturnya.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0