Foto: ist
KOSADATA — Di kelas, seorang guru matematika tidak hanya menuliskan rumus di papan tulis. Ia dituntut peka membaca ekspresi siswa yang pendiam, yang ternyata mampu bersinar ketika diminta menjelaskan strategi soal kepada teman-temannya.
Di lapangan olahraga, peluit bukan sekadar alat memulai pertandingan. Seorang guru olahraga harus mampu mengubah tangisan akibat kekalahan menjadi pelajaran berharga tentang sportivitas dan keberanian bangkit dari kegagalan.
Momen-momen kecil ini memperlihatkan betapa setiap guru, apapun mata pelajaran yang diampunya, memiliki peran penting sebagai guru bimbingan konseling (BK). Mereka menjadi pendengar pertama, pembaca isyarat emosi, sekaligus penuntun awal dalam perjalanan karakter anak.
Guru Besar di bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem menegaskan, transformasi peran guru ini mutlak dilakukan di tengah keterbatasan jumlah guru BK di sekolah.
"Idealnya, satu guru BK mendampingi 150 siswa sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021. Namun faktanya, di lapangan ada guru BK yang harus menangani 500 hingga 1.500 siswa. Bahkan di SD, posisi khusus guru BK nyaris tidak ada," ujar Maila dilansir laman resmi UIN Jakarta, Senin, 14 Juli 2025.
Menurutnya, minimnya jumlah guru BK diperparah oleh stigma negatif yang terlanjur melekat. Ruang BK masih dianggap sebagai “kantor polisi sekolah” bagi siswa bermasalah. Padahal, hakikat layanan BK adalah pendampingan perkembangan emosional dan sosial siswa, bukan ruang
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0