Tarif Trump Dibuat Geram

Ida Farida
Apr 29, 2025

Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si., Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis UPI. Foto: ist

tarif dan kuota. Namun kini, ketika produksi, distribusi, dan konsumsi telah menjadi bagian dari rantai nilai global, penarikan diri dari skema perdagangan yang saling menguntungkan justru akan memperlemah daya tahan ekonomi suatu negara. Alih-alih melindungi industri dalam negeri, kebijakan semacam ini dapat memicu inflasi, menurunkan daya beli, dan mengganggu stabilitas pasokan barang strategis.

 

Hari ini, kita hidup dalam era keterhubungan total. Dunia bukan lagi seperti kumpulan kapal yang berlayar sendiri-sendiri. Seperti ilustrasikan oleh Kishore Mahbubani, mantan diplomat Singapura, bahwa saat ini semua negara seumpama berada dalam satu “kapal besar”. Semua negara, tanpa terkecuali, harus sama-sama saling menjaga keamanan dan keselamatan bahtera tersebut. Ketika satu negara besar seperti Amerika Serikat (yang menyumbang sekitar 26% dari PDB dunia) memainkan haluan secara sepihak, maka riaknya akan terasa hingga ke dapur ekonomi negara-negara berkembang. Kebijakan tarif Trump berdampak pada tingginya harga barang, menurunnya permintaan ekspor, hingga terganggunya stabilitas pasar global.

 

Respon Indonesia

 

Di tengah kepanikan global dan upaya proaktif puluhan negara untuk bernegosiasi langsung dengan Gedung Putih, respon Indonesia tampak berjalan lambat. Ketika lebih dari 50 negara telah mengambil langkah strategis untuk melindungi kepentingan dagangnya, Indonesia terkesan lambat dalam mengambil langkah konkret untuk meyakinkan pelaku pasar dan masyarakat bahwa pemerintah benar-benar serius dalam menghadapi dampak kebijakan Trump.

 

Negara tetangga kita seperti Vietnam bahkan menunjukkan diplomasi yang lebih gesit. Sekjen Partai Komunis Vietnam, To Lam, langsung menghubungi Trump. Mereka menawarkan solusi dengan menurunkan tarif atas produk AS dan berkomitmen membeli produk-produk strategis dari Amerika. Sebuah contoh negosiasi cerdas dan berani dari sebuah negara yang baru “kemarin sore” bangkit.

 

Sementara itu,


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0