Tantangan Sekolah Swasta

Joeang Elkamali
May 24, 2024

Ilustrasi diskusi kependidikan Swasta

tertarik sebagian kecilnya. 

Itulah kenapa, banyak Sekolah%20swasta">Sekolah Swasta kesulitan bayar gaji Guru. Sudah kecil, eh, nunggak lagi. Ya mau bagaimana lagi, tidak ada sumber lain yang bisa diambil. Maka lembaga, ketika menghadapi tahun ajaran baru, selalu menekan para Guru agar mendapat siswa sebanyak mungkin. Ini resiko Guru Swasta. (Btw, Guru yang bekerja di Swasta itu namanya GTY (Guru tetap yayasan) atau GTTY (Guru tidak tetap yayasan). Sedangkan di Sekolah negeri, namanya PNS atau ASN, atau P3K. Terus Guru honorer itu siapa? Nah, Guru honorer itu Guru yang bekerja di Sekolah negeri yang bukan P3K atau PNS. Jadi, Guru honorer itu bukan Guru yang di Swasta). Jika siswa yang masuk banyak, semua pihak bisa bernafas lega. Bahkan boleh berharap tidak ada lagi gaji nunggak. Tapi kalau siswa sedikit, itu lampu kuning. Bisa onar malah. 

Apakah mudah mencari siswa itu? Sepengalaman saya sulit. Apalagi dengan terus bertambahnya Sekolah negeri, atau Sekolah negeri yang terus menambah jumlah kelasnya. Sebagai contoh Kota Tasikmalaya. Ada sekitar 60 SMK, itu belum Madrasah Aliyah (MA), atau SMA. Kota sekecil itu, bersaing berebut siswa dengan negeri. Akibatnya banyak Sekolah%20swasta">Sekolah Swasta "tutup". Karena tidak ada lagi siswa yang mau masuk kesana. Ini di satu sisi masalah daya saing, di sisi lain juga masalah kebijakan. 

Tapi berhubung tulisan ini hendak mengupas


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0