Keempat, pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan plastik konvensional secara massif. Plastik tersebut sulit terurai, memakan waktu ratusan tahun. Dan, mulai beralih pada plastik mudah terurai (biodegradable) dan compostable. Setidaknya bisa teruari dalam kurun 2-3 tahunan.
Kelima, pengolahan sampah secara total di tingkat TPST Bantargebang dengan multi-teknologi ramah lingkungan dan tingkat reduksi 80-90%. Mestinya 2.500-2.800 ton/hari sampah organik dari seluruh PD Pasar Jaya atau pasar tradisonal DKIÂ langsung dibawa ke plant kompos. Artinya diproses jadi kompos atau pupuk organik.
Keenam, pemerintah pusat harus membantu Pemprov DKI dalam mengatasi persoalan TPST Bantargebang. Contoh dukungan teknologi composting skala besar atau teknologi lain yang mampu mereduksi sampah secara signifikan.
Ketujuh, solusi lain yang cepat dan tepat untuk mengurangi beban TPST dengan melibatkan pihak swasta professional dan punya teknologi siap pakai. Pemerintah sebagai leading sector harus mengajak entitas swasta. Model pelibatkan swasta dalam mengolah sampah berlaku di berbagai negara.
Secepatnya, TPST Bantargebang harus diselamatkan sebelum tumbang. Waktunya tidak banyak, 4-5 bulan kedepan jika tidak ada solusi cepat dan berani maka bisa saja TPST akan tumbang!! Jangan menunggu malapetaka sampah datang menelan korban!! Ingat, Peristiwa Malam Jumat Naas tahun 2006 lalu, Tragedi Bantargebang Jumat Naas, jangan sampai terulang! ***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0