Bagong Suyoto di tengah tumpukan sampah impor. Foto: KPNas
Oleh: Bagong Suyoto
Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas)
Saya menulis di beberapa media massa tentang impor sampah sangat merugikan negara yang dijadikan pasar dumping sampah impor. Sejak tahun 1982-an sudah terjadi impor sampah dan Asia Tenggara menjadi tujuan dumping sampah impor. Kenapa itu terjadi? Pemerintah dan pengusaha kita saat itu begitu cinta sama impor sampah?! Pada 1982-an kalangan pemulung, pelapak dan aktivis lingkungan sudah melakukan protes keras terhadap impor sampah.
Mereka protes mendatangi DPR/MPR RI di Senayan. Mereka serukan “Stop impor sampah!!” Karena dampak impor sampah sangat terasa mempengaruhi harga-harga pungutan pemulung. Lihat buku Pemulung Pelopor 3R Sampah (2008) dan beberapa tulisan saya lainnya.
Namun periode 1982-2017 upaya-upaya keras yang dilakukan kelompok/komunitas dan NGOs anti sampah impor tidak didengar lagi bagaikan angin lalu. Dan, bahkan semakin banyak impor sampah, alasannya sebagai bahan baku daur ulang.
Para pengimpor yang dapat duit, untung, hidupnya makin kaya. Tetapi mereka masa bodoh dengan limbah dan sisa-sisa sampahnya. Perilaku ini sangat merugikan sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan. impor sampah juga memperlemah politik lokal.
Sebab basis sosial ekonominya melemah. Pada 2008 kita punya UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, dan UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta aturan turunannya, namun impor sampah terus meningkat.
impor sampah merupakan salah satu bentuk dari politik ekologi, tetapi juga dapat dikatakan sebagai bentuk “kololinisasi baru”. Kepentingan
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0