Oleh: Agustinus Tamtama Putra
Pengamat Kebijakan Publik GMT Institute
KOSADATA - Stunting dalam peristilahan orang Indonesia dikenal dengan sebutan cebol atau kerdil. Namun ternyata, cebol atau kerdil yang dimaksud bukan hanya soal postur badan yang pendek sebagaimana banyak orang salah pahami. Cebol atau kerdil yang dimaksud bersifat menyeluruh, termasuk juga daya nalar atau fungsi otak yang tidak optimal serta defisiensi kepribadian yang sifatnya non-fisik.
Di satu sisi dari segi fisik, Stunting memang nampak dalam diri anak-anak berbadan pendek tak wajar untuk seumuran mereka. Hal ini disebabkan oleh nutrisi yang tidak cukup, bahkan kurang atau tidak sama sekali (malnutrition). Tubuh anak terjangkit infeksi dan tidak ditangani. Di sisi lain dari segi non-fisik, mereka tidak mendapat stimulasi psikologis yang cukup. Dalam arti ini, trauma akibat perang juga bisa berdampak pada situasi Stunting.
Menurut WHO (World Health Organisation), anak disebut Stunting jika tinggi badan mereka dua kali di bawah rata-rata standar pertumbuhan anak normal (Child Growth Standarts). Mengapa Stunting menjadi masalah yang cukup memprihatinkan? Stunting tidak hanya menyentuh ranah kesejahteraan (well-being) anak-anak, tetapi mempengaruhi seluruh kehidupan keluarga, komunitas masyarakat dan bangsa.
Pertemuan Kesehatan Dunia (The World Health Assembly) menyebut Stunting sebagai “satu penghalang paling signifikan dari perkembangan manusia†(one of the most significant impediments to human development). Anak cebol atau kerdil tidak akan pernah mencapai potensi penuh perkembangan mereka secara fisik dan kognitif (pikiran). Mereka akan tertinggal jauh di sekolah dan kemudian di dunia kerja.
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0