Sejumlah masyarakat sipil melakukan aksi di depan Kedubes Jepang. Foto: ist
Tak hanya melalui investasi publik, pendanaan proyek energi fosil juga didukung perusahaan swasta dan bank-bank besar Jepang seperti MUFG, SMBC, Mizuho, hingga perusahaan energi JERA. Selama satu dekade terakhir, Jepang tercatat menggelontorkan dana sebesar 93 miliar dollar AS untuk proyek minyak dan gas global.
Kelompok masyarakat sipil itu menilai, dukungan Jepang terhadap proyek-proyek energi kotor ini berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal Indonesia, khususnya lewat insentif pajak bagi investasi yang diklaim sebagai energi bersih. Padahal, proyek-proyek tersebut dinilai membawa risiko kesehatan, sosial, dan ekonomi, terutama bagi kelompok rentan.
Dengan momentum sejumlah agenda iklim regional dan global di Juni 2025—seperti ADB Asia Clean Energy Forum, KTT G7, hingga UNFCCC Intersessional di Bonn—Solidaritas Perempuan, WALHI, dan Aksi! for Gender, Social, and Ecological Justice mendesak Pemerintah Jepang segera menghentikan pendanaan proyek energi fosil di Asia.
Mereka juga meminta Jepang menghentikan promosi solusi palsu yang justru memperpanjang usia bahan bakar fosil, dan mendorong transisi energi yang adil dengan melibatkan partisipasi masyarakat terdampak secara bermakna.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0