Krisis Partai Politik

Bambang Widodo
Oct 26, 2023

Foto: ist

isi hatinya, dan juga tindakkanya. Semua tuna makna. Dampak dari semua itu adalah, ketika kekuasaan berada ditangan individu seperti politikus semacam itu maka rakyat adalah hanya jadi perkakas, jadi alat bagi kepentingan pelanggengan kekuasaannya. Kekuasaan yang ada di tanganya berubah menjadi kepentingan bagi dirinya. Penderitaan dan kesengsaraan rakyat hanyalah hitungan statistik belaka. Kepentingan umum, kepentingan rakyat banyak itu hanya jadi kamuflase dari kepentingan besar bagi diri, keluarga dan kelompoknya. Di dasar hatinya yang paling dalam, baginya adalah bagaimana menjadikan anak anaknya, sanak familinya menjadi bagian dari pelanggengan kekuasaan. Demokrasi, keadilan, pengakuan atas persamaan kesempatan, tidak penting. Mereka, manusia seperti ini juga tidak memiliki nilai nilai ethis seperti kejujuran, juga kepedulian pada kemanusiaan. Baginya kekuasaan dan hal hal yang bersifat material lainya adalah hal penting dan jadi tujuan. Awal muasal kondisi tersebut muncul karena satu hal : partai partai politik itu memang telah mengalami krisis ideologi. Krisis ideologi ini muncul karena memang partai partai itu hanya diisi oleh orang orang yang minus ideologi. Didominasi oleh mereka yang hanya memiliki popularitas dan hal hal artifisial lainya seperti dasar kekayaan, keturunan dan simbol simbol feodaalisme lainya. Dari krisis ideologi tersebut maka lahirlah krisis kepemimpinan. Partai partai politik yang dibangun itu tak mampu lahirkan kader kader handal yang memiliki basis komitmen ideologi yang kuat dan jelas. Lalu yang dilakukan partai partai politik itu adalah memperbanyak figur figur populis, mereka yang diharapkan memiliki basis elektrolal yang tinggi karena iklan dan pencitraan. Bukan karena wibawa ideologi yang melekat dalam platform partai. Orang orang oportunis

1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0