Mendongkrak Pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ichsan Sundawani
Sep 17, 2023

Fransiscus Go. Foto: Ist

latar belakang pendidikan rendah  dan ekonomi yang  lemah. 

Kendala lain dalam pendidikan di pedalaman NTT adalah akses yang sulit ke fasilitas pendidikan. Jumlah sekolah di daerah pedesaan sangat terbatas dibandingkan di perkotaan. Berbeda dengan anak-anak di perkotaan yang dapat dengan mudah mencapai sekolah dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, anak-anak di pedalaman NTT harus menempuh jarak yang jauh untuk sampai ke sekolah. Seperti dialami  para siswa di SDN Lebantour, Desa Koja Doi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang harus menyeberangi laut dan menggunakan perahu untuk mencapai sekolah yang terletak di pulau seberang. 

Keterbatasan pendidikan di pedalaman NTT juga disebabkan oleh kurangnya tenaga pengajar yang tersedia di daerah tersebut. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah guru, tetapi juga kualitas guru yang kurang memadai. Banyak guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan belum memiliki sertifikat profesi. 

Di pedalaman, seringkali seorang guru harus mengajar beberapa kelas sekaligus, yang tentu saja menghambat efektivitas proses pembelajaran. Para guru ini juga seringkali tidak memiliki fasilitas  pendidikan yang memadai untuk mengajar. Hal ini menyebabkan, pendidikan di NTT tertinggal. 

Belum lagi ditambah  dengan tantangan geografis, dimana di NTT banyak pulau-pulau kecil dan terpencil yang sulit dijangkau. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam menyediakan guru karena sulitnya aksesibilitas dan mobilitas antar pulau. 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ( Kemendikbud Ristek) pernah melakukan asesmen terhadap 869 Sekolah Menengah Atas (SMA) di NTT pada 2022. Asesmen dilakukan pada 33.433 siswa, 773 kepala satuan pendidik, dan 20.214 guru. 

Hasilnya, kemampuan literasi dan numerasi  pelajar di NTT pada jenjang pendidikan SMA masih


1 2 3 4 5 6 7

Related Post

Post a Comment

Comments 0