Johny Wenas Polii, Ekonom Partai Demokrat. Foto: ist
Oleh: Johny Wenas Polii
Ekonom Partai Demokrat
Perekonomian dunia saat ini ditandai dengan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat dibandingkan dengan beberapa mata uang negara lain, termasuk Indonesia. Fenomena ini telah menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, bahkan menembus angka Rp16.000.
Situasi ini menciptakan kepanikan baik di kalangan pemerintah maupun dunia usaha. Pemerintah bereaksi dengan memanggil menteri keuangan dan gubernur bank Indonesia untuk menjaga stabilitas fiskal dan moneter.
Kebijakan Fiskal dan Stabilitas Makro Ekonomi
Untuk memahami dampak pelemahan rupiah, kita dapat melihat formula makroekonomi berikut:
Y= C + I + G + (X – M)
Dimana:
Y adalah pendapatan nasional
C adalah konsumsi swasta
I adalah investasi swasta dan pemerintah
G adalah konsumsi pemerintah
X adalah ekspor
M adalah impor
Saat rupiah melemah terhadap dolar AS, baik pemerintah maupun sektor swasta khawatir karena bahan baku impor dan barang kebutuhan dalam negeri yang tidak diproduksi secara cukup di dalam negeri menjadi lebih mahal. Hal ini dapat mengganggu kegiatan produksi dalam negeri.
defisit anggaran dan Profitabilitas
Pelemahan rupiah juga berpotensi mengganggu defisit anggaran yang diatur oleh undang-undang untuk tidak melampaui 3%. Untuk itu, pemerintah sangat memperhitungkan dampak dari gejolak nilai rupiah terhadap penerimaan negara. Hal ini dapat dianalisis melalui formula profit:
Profit = Total Revenue – Total Cost,
Yang dapat diturunkan menjadi:
Profit = (Price x Quantity) – (Total Fixed Cost + Total Variable Cost)
Jika rupiah
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0